Kamis, 05 Mei 2011

Jajak Pendapat Tentang Poligami

Oleh : ‘Abiirur Rumaal

Istri Kedua Bukan Akhir Segalanya Bahkan Awal dari Kehidupan Baru, Rumah Berubah Menjadi Kebun Yang Hijau Dengan Adanya Istri Ke-Dua

76 % : Kami akan Menuntut Cerai Dengan Hadirnya Istri Ke- Dua
2 % : Kami Menerima Kenyataan yang Terjadi
65 % : Sarana Informasi Penyebab Ketakutan Kami dari Poligami

Cemburu ........ ragu .... bimbang.....serta rasa kuatir menyerang dengan keji....... mengubahnya dari wanita yang semula polos..... menjadi wanita berwajah pucat............. bertemperamen tinggi........ meremehkan kebaikan-kebaikan suaminya ..........mengusut.......menyelidiki, dan dengan pedas segala pertengkaran menerkam ........berputar-putar di tengah-tengah pernikahan ke-dua.

Engkau wahai! istri menginginkan suami menjadi manusia mayat berjantung buatan..... tidak bergerak, kecuali untuk urusanmu......tidak melihat kecuali dirimu......tidak mendengar kecuali suaramu...... tidak ingat kecuali namamu......setiap detik engkau mengancamnya jika dia berani berbuat dengan selain dirimu....jika dia berpikir dengan selainmu....halaman rumah engkau ubah menjadi medan pertempuran.... rayuan menjadi bencana, dan hilanglah dari suami manisnya kebersamaan denganmu...sampai tidak tersisa kecintaan sedikitpun... dan dadanya sempit karenamu....menikahlah ia dengan yang lain dengan hati penuh gelora....menyambut tuntutan perpisahan darimu.....jelas sudah detik perpisahan.....tinggallah dirimu dalam impian abadi ....hingga keluarlah dari bibirmu bait penyesalan:

Sempit rasa dadaku gundah dan gelisah, hilang sudah pelipur hatiku, kecil sudah harapanku
Di mana akal dan kesabaranku? Berlalu sudah semuanya, Hilang bersama manisnya angan-angan dan pahitnya kebebasan,
Panjang malamku... panjang penderitaanku.....dan panjang penyesalanku di sela malam-malam yang panjang ini.

Seringkali perceraian merupakan pilihan akhir bagi setiap wanita. Engkau menolak dan engkau cemburui ia (istri ke-dua). Engkau telah membuat kerugian pada suaminya dan engkau lempar ia ke dalam api penyesalan. Engkau sekalian berkata: Apa sikapku harus dingin dan tenang? Sementara aku melihat ada wanita lain bersama kami? Dan ia telah merampas dariku satu-satunya teman dekat dan pembimbingku. Padahal telah aku tumpahkan segala isi hatiku yang terakhir, dan telah mati harumnya cintaku untuknya dan tak akan kembali penyejuk kekeringan berlumur debu.

Majalah “Da,wah” akan menjawab segala pertanyaan ini. Sungguh telah ia bukakan hatinya (wanita) untukmu dan ia perlihatkan untuk Anda keajaiban kisah-kisah. Ia jabarkan semua itu dari kenyataan yang ada, dan ia tambahkan kepadanya pendapat-pendapat ulama, para penulis dan mereka rinci permasalahan ini. Semoga dengannya akan terkumpul ranting-ranting keluarga yang berserakan akibat sekejab keputusasaan darimu, selanjutnya...... 
Pengumpulan Data

Di awal ini, saya ingin agar engkau mengetahui bahwa yang berbicara denganmu adalah wanita seperti Anda juga. Dia memiliki rasa kasih sayang dan jiwa yang jernih, sensitivitas yang peka dalam permasalahan ini, lebih besar dari apa yang dibayangkan wanita-wanita lain. Dan agar engkau merasa bersamaku hingga akhir dari penelitian ini, aku ingin agar engkau mengunci segala perasaan itu dalam kotak yang kuat seperti apa yang telah aku lakukan. Dan agar engkau melempar kunci jendelanya. Sehingga engkau tidak dengan mudah kembali kepadanya ketika engkau terhentak oleh pembicaraan ini. Sesungguhnya saya ingin mengajak bicara pada hati nurani wanita mu’minah, wanita yang belum pernah terbentur oleh rintangan-rintangan hidup, yang belum pernah terhalangi ole sifat kewanitaan berupa cinta, kasih sayang serta rayuan hangat madunya.

Dan aku tidak akan menyergap engkau dengan hasil angket yang telah aku sebarkan kepada 100 wanita dari berbagai lapisan dan kalangan, yang beraneka ragam pendapat-pendapat dan kebiasaannya. Inilah hasil dari angket tersebut:

Persentase Jawaban

6 % Tidak memberikan jawaban
76 % Meminta cerai dengan adanya istri ke-dua
22 % Memilih tinggal bersama anak-anaknya tanpa melanjutkan pernikahan
2 % Pasrah menerima keadaan
65 % Takut dimadu, karena pengaruh apa yang mereka lihat dan dengar dari sarana-sarana komunikasi
35 % Takut dimadu karena melihat kenyataan yang terjadi dari kehidupan poligami, terutama jika kenyataaan itu telah menimpa di sekitarnya
71 % Mengancam suami jika sampai suami berpikir untuk menikah lagi
17 % Pisah ranjang dan tidak akan mengajak suami bicara sampai ia berhenti memikirkan untuk menikah lagi
12 % Berusaha adil dengan keberadaan madu hingga tidak ada alasan lagi bagi suami untuk menikah lagi

Dengan hasil yang mengagetkan ini, saya tidak akan meninggalkan Anda berhenti lama-lama di hadapannya, ini dikarenakan hati para wanita ini ( responden) belum pernah sama sekali tersengat istri ke-dua (madunya), berupa kucilan suami terhadap istrinya, adanya istri ke-dua yang mencuri hati dan keberadaan suaminya. Akan tetapi kita memang tidak bisa menutup mata dari berbagai kejadian yang menimpa keluarga dari suami yang mempunyai istri lebih dari satu.
Wahai sekalian wanita yang penyabar saya akan mencabut engkau dari lubang hitam yang telah dibuat untukmu. Baik engkau rela atau tidak, engkau menemaniku, bersama kita mengunjungi rumah kecil yang telah berubah menjadi kebun yang hijau milik wanita yang telah menjalani kehidupan poligami. Terciptalah kehidupan yang baru bagi mereka dengan adanya istri ke-dua. Dan jangan engkau lupa untuk meletakan foto anak-anakmu di hadapan matamu, dan engkau ambil kebaikan-kebaikan suamimu bersamamu, sebagai bekal bagimu di perjalanan menuju kebahagiaan, insyaa Allah Ta’ala. 

Islam Bukan Pencetus Poligami

Bagaimana pendapat engkau jika kita saling bertukar pikiran , dan kita berada di jalan yang menuju ke arah itu. Tinggalkan saya, Anda akan saya beritahu dengan sesuatu yang mungkin anda belum mengetahui sebelumnya. Apakah Anda sekalian mempercayai saya, bahwa agama kita Islam bukanlah pencetus perkawinan dengan lebih dari satu wanita (ta’adud/poligami). Bahkan Islam telah mengaturnya sebagai bentuk belas kasih dan sayang terhadap kita, inilah yang ditunjukkan oleh syaikh Ahmad Mahyudiin dengan perkataannya: “ Laki-laki pada masa lampau terutama pada masa jahiliyyah, memperlakukan wanita dengan perlakuan keji serta kasar, membencinya, merendahkannya, dan melarangnya dari hidup bebas yang mulia. Hal ini terutama pada masalah poligami, mereka menikah dengan wanita dengan jumlah yang tidak terbatas, hingga mencapai jumlah 80 istri untuk satu suami. Hal ini tidak hanya terjadi di bangsa Arab saja, bahkan juga terjadi di masyarakat barat dengan segala macam bentuk dan ragamnya dengan batas yang tak terhingga, yang semuanya kembali menurut adat yang berlaku dan hasrat laki-laki. Maka tidak ada pilihan ketiga bagi wanita dalam pernikahaannya, kecuali tidak berdaya dan terpaksa.

Inilah gambaran poligami di umat terdahulu dan masa lampau. Maka Islam bukanlah pendahulu sama sekali dalam asal penikahan dan poligami secara mutlak. Justru Islam mengatur masalah pernikahan dan memberi batasan dalam poligami. Seperti merebaknya poligami di negara perancis yang kemudian dilarang karena suatu alasan. Sehingga tersebarlah perzinahan dan lahirnya anak-anak di luar pernikahan dalam jumlah yang besar. Dan setelah mereka melampaui batas dalam “menghormati” wanita serta tuduhan terhadap Islam yang telah melegalkan poligami, dan menganggapnya sebagai tindakan keji dan mambatasi kebebasan berdirilah para pemikir dari mereka, menuntut diberlakukannya poligami untuk mengecilkan angka pelacuran mencegah tersebarnya perzinahan, serta mencegah penyakit, kerusakan dan penyimpangan akhlak, mencegah hilangnya masyarakat dan kehancuran keluarga.
Yang Ke-2 Bukan Selingkuh

Kita semua mengetahui bahwa kita sekarang sedang menghadapi bahaya besar, ketahuilah ia adalah keberadaan gadis-gadis tua yang jumlahnya makin bertambah dari hari ke hari, hingga di Arab Saudi sendiri jumlahnya mencapai 1,5 juta orang, menurut perhitungan yang disebutkan oleh Dr. Abdullah Al-Fauzan dalam siaran langsung di radio MBC.

Al-Ustadz Imaaduddin Husein menyebutkan kepada kita, solusi apa yang mungkin kita lakukan untuk mengobati kenyataan ini, di mana dalam hal ini beliau berkata:

1. Setiap laki-laki menikah dengan satu wanita, dan membiarkan wanita- wanita lain membujang (tidak menikah), mengarungi hidupnya tanpa mengenal laki-laki.
2. Seorang laki-laki menikahi labih dari satu wanita, dan mengenalkan wanita-wanita lainnya dengan seorang laki-laki yang akan menikahinya secara mulia.
3.
Sesungguhnya kemungkinan pertama bertentangan dengan fitrah kewanitaan di mana dia (wanita) tidak mengenal sama sekali laki-laki, dan pilihan ini juga tidak mungkin menghapus kenyataan yang ada, dimana wanita tidak membutuhkan laki-laki dalam usaha dan mencari nafkah. Sesunguhnya masalah ini lebih dalam dari apa yang diperkirakan oleh orang-orang “permukaan” berkaitan dengan fitrah manusia. Dan seribu usaha serta pekerjaan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan fitrah wanita dalam menuju kehidupan yang baik.

Dan kemungkinan yang ke-dua: itulah solusi yang dipilih oleh Islam, dimana hal itu sejalan dengan kenyataan dan kebutuhan yang diperlukan seorang manusia sesuai fitrah dan kondisinya.

Kemenangan atau Kehancuran

Seandainya para wanita, dimana ia merupakan kelompok yang besar mengetahui, mereka lebih mengutamakan menjadi kekasih-kekasih bagi suami-suaminya dari pada (suaminya) menikah dengan yang lain, sebagai penghormatan dalam masalah ini, dimana Allah Ta’ala telah berfirman:
و لا تقربوا الزنى إنه كان فاحشة و ساء سبيلا [ الإسراء : 32]
Artinya:
Dan jangan kalian mendekati zina, sesungguhnya ia adalah perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk. (Surat: Al-Isra: 32)

Ditambah lagi bahayanya bagi kesehatan dan kehidupan masyarakat yang diakibatkan oleh kejahatan ini. Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh kantor urusan agama : “ Sesungguhnya zina mematikan kehormatan, menghilangkan kebaikan dan menghancurkan kehidupan serta membunuh naluri kasih sayang (kebapakan) laki-laki. Maka engkau melihat seorang pezina itu berhati keras. Ia melihat dunia dengan pandangan terbalik. Berjalan menurut keinginan dan hawa nafsunya. Membuat cela kehormatan dan membuat pendengki dengki kapadanya. Itulah pezinahan, yang telah diketauhi oleh orang yang kurang ajar, pendusta, mementingkan dirinya sendiri dan tunduk terhadap hawa nafsu.

Anda melihat jika perkara-perkara yang rendah ini melekat pada anggota-anggota masyarakat tertentu, maka tidak mungkin kekokohan dan ketenangan masyarakat akan ditemui di dalamnya. Seperti merebaknya perzinahan dalam masyarakat. Maka akan sedikit sekali kita jumpai di dalamnya hubungan pernikahan yang didasari atas pergaulan yang baik, kasih sayang , kepercayaan dan keharmonisan. Demikian juga akan sedikit sekali dijumpai dalam masyarakat seperti ditemuinya keturunan yang baik, serta rumah tangga yang dihiasi dengan ketenangan dan kebahagiaan.

Penelitian-penelitian kedokteran telah membuktikan bahwa di sana ada sejumlah penyakit yang tersebar di antara beribu-ribu orang yang terbiasa melakukan hubungan seks di luar nikah. Ada penyakit yang menimpa organ reproduksi seperti siphilis dan gonorrhea, penyakit yang menimpa organ dalam seperti disfungsi hati, penyakit yang menimpa kulit seperti skabies di tambah juga penyakit yang disebabkan oleh virus seperti herpes dan AIDS.

Cukuplah kisah yang dituturkan seorang wanita bernama Ummu Sa’ad tentang musibah yang menimpa tetangganya, sebagai peringatan bagi kita. “Saya mempunyai tetangga yang senang bepergian dan wisata. Tidak ada liburan kecuali ia habiskan di luar negeri. Istrinyapun mendukung apa yang dilakukannya, dengan syarat ia tidak menikah lagi, sang istri berkeyakinan dukungan yang ia berikan dapat menolongnya agar suami tidak menikah dengan yang lain lagi. Hingga akhirnya suaminya terkena AIDS. Dan ia pindahkan kepada istrinya yang telah memberikan kesempatan padanya untuk menyeleweng darinya. Hingga keduanya pun dirawat di rumah sakit sampai ajal menjemput mereka. Kita memohon kepada Allah Ta’ala kesehatan dan keselamatan
Kepribadian, Antara Kekuatan dan Kelemahan

Saya memandang kisah di atas cukup menyentuh perasaan Anda, membuat cemburu agama dan pemeluknya serta membuat Anda terharu ketika mendengarnya. Seandainya Anda memperhatikan kenyataan yang terjadi, apa yang mendorong laki-laki itu dan juga yang lainya untuk memilih jalan yang rendah! Maka enkau akan mendapati, bahwa engkau, saya, dan yang lainya dari kalangan wanita telah ikut andil dalam kenyataan yang menimpa para laki-laki. Sejak awal kalian semua telah mengatakan: “ Bagaimana saya membohongi diri saya sendiri, dan melanjutkan kehidupan bersamanya dengan kehadiran istri ke-dua atau saya menjadi istri yang taat kepadanya, dan sayalah yang mengancamnya dengan perceraian dan sayalah yang menghadapkan kehidupannya pada kehancuran dan permasalahan jika ia menikah lagi. Bahkan bagaimana saya meneruskan perjalanan bersamanya di jalan yang penuh dengan duri di sekitar padang gembala”.

Al-Ustadz Hamid Al-Bilaly akan menjelaskan kepada engkau dengan perkataan beliau: “Sesunguhnya jiwa manusia mempunyai kecenderungan untuk sombong dan menentang. Ia tidak akan melepaskan pendapat yang ia belanya kecuali dengan kelembutan, sehingga ia tidak merasa mendapat kekalahan, dan cepat sekali bercampur nilai sebuah pendapat ke dalam jiwa, dan nilai itu ada di sisi orang lain, maka melepaskan pendapat (yang dibelanya) dianggap telah menurunkan kewibawaan jiwa, kemuliaannya, dan keberadaannya, maka berdebat dengan cara yang baik dialah yang mampu meletakkan sensitifitas kesombongan. Dengan demikian orang yang didebat akan merasa bahwa dirinya terjaga, dan harga dirinya dihormati. Dan sesungguhnya seorang penyeru tidaklah bermaksud lain kecuali untuk menyingkap kebenaran”.

Dan seorang guru psikologi akan membantah Anda dengan cara yang baik, menjelaskan kepada Anda mengenai kepribadian yang seimbang dengan perkataanya: “
Sesungguhnya kepribadian yang seimbang itu adalah, apabila pemiliknya mampu mengarahkan dan melepaskan kejengkelan atau sakit hatinya dengan hati yang teguh, berani serta hikmah. Adapun menyerang atau membuat orang lain lebih buruk karena kejengkelan, kebingungan, atau menyalahkan orang lain, hal itu tidak menunjukkan pada pribadi yang seimbang. Kepribadian yang seimbang adalah di mana pemiliknya melihat kehidupan dengan pandangan nyata penuh kesungguhan, dengan segala apa yang ada di dalamnya berupa perhiasan, pengalaman, keburukan, kekerasan serta jauh dari khayalan, buaian, serta keragu-raguan yang jauh dari kenyataan. 

Saya Nikahkan Suamiku

Kisah rumah ke-dua yang akan kita kunjungi merupakan gambaran dari artikel ini. Di mana sebelumnya saya tidak mempercayai kisah ini, hingga saya berbincang-bincang langsung dengan pelakunya sendiri. Tergurat di wajahnya yang berseri-seri kegembiraan dan kerelaan. Wanita ini mengatakan : Dulu aku mempunyai teman yang cukup saya kenal. Suatu ketika saya menunaikan ibadah haji ke Baitulloh, dari sini aku mengetahui bahwa rumahnya tidak terlalu berjauhan dengan rumah kami. Hingga kami saling kunjung-mengunjungi, hingga kami seperti saudara yang tidak bisa berpisah satu dengan yang lainnya. Akupun mendatangi suamiku, meminta untuk menikahinya, agar ia bisa tinggal di sampingku selalu. Padahal dia lebih muda dariku, lebih cantik penampilannya dariku dan hatinya lebih lembut dariku. Namun yang aneh dari kisah ini, suamiku tidak tertarik untuk menikah lagi. Dan selelah aku merayunya terus-menerus, akhirnya ia pun menikahinya. Dan tinggallah kami bersama dalam satu rumah. Dan saya sekarang merawat anak-anaknya bersama anak-anakku. Dan saya bersyukur kepada Allah Ta’ala ketika saya teringat bahwa melalui sayalah temanku mendapat kebahagiannya. 

Ibu Bukan Istri

Usiaku dan usianya terpaut 20 tahun, maka jadilah aku seperti seorang ibu baginya bukan seorang istri. Berkata pelaku dari kisah ini: Dengan usia yang lanjut ini, aku selalu menyanyanginya setiap waktu, selalu menginginkan agar ia menikah dengan wanita lain. Maka aku siapkan baginya mantel yang lembut. Aku siapkan makanan yang menurutku dapat menguatkan niatnya. Dan aku perhatikan agar sarapan paginya menjadi penghilang rasa laparnya di pagi hari pernikahannya. Dan akulah yang menuntun istrinya dengan kedua tangganku menemui sang kekasih untuk bersanding dengan suaminya yang tidak lain adalah suamiku, hingga aku serahkan malamku untuk istrinya, karena rasa kasih dan sayangku kepada suami.

Adapun permasalahan istrinya, tidaklah dibicarakan kecuali denganku. Aku merasa sangat bahagia, ketika ikut mengatasi persoalan istrinya. Sampai –sampai semua orang di sekitarku menyangka bahwa saya benar-benar sudah kehilangan perasaan cemburu layaknya seorang wanita. Itu hak mereka mengatakan demikian, karena mereka tidak menyaksikan api yang berkobar dalam hatiku, tidak melihat air mata yang aku cucurkan kecuali hanya denganku di keheningan malam yang kelam. Karena malam tidaklah berguna bagiku, sekalipun sangat istimewa bagi yang lain. Aku katakan pada diriku di kesunyian yang menyakitkan: “Kebekuan dan kesabaran apakah ini? 

Bagaimana Meraih Cinta Suami

Setelah kita selesai meniti kisah-kisah di atas, kisah tentang wanita yang cerdas, maka kehidupan telah memberi engkau pelajaran bagaimana meraih kasih sayang suami, serta hidup bersamanya dalam ketenangan. Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah engkau perbuat terhadap suamimu hanyalah kesusahan yang menghimpit hidup, dan merubah manisnya menjadi kepahitan. Apabila engkau ingin menjaga kasih sayang suamimu, penulis akan menunjukkan kepadamu tentang “kholifah” berkaitan dengan apa yang akan engkau perbuat kepada suamimu:
  • Tetaplah engkau tersenyum penuh percaya diri, dan ketahuilah bahwa engkau adalah wanita bagi suamimu, sumber bagi inspirasinya. Dan ketahuilah! bagaimana engkau menjadi matahari yang menyingkap awan dan mendung dalam kehidupannya dan bagaimana engkau mengucurkan kebahagiaan untuknya.
  • Perhatikanlah selalu penampilanmu, karena hak suami yang paling sederhana terhadap engkau, yaitu engkau menjaga sifat-sifat pada dirimu yang telah membuatnya tertarik padamu.

  • Janganlah engkau ragu-ragu menampakkan gelombang perasaan.

  • Perlihatkan selalu kepada suamimu cinta, kasih-sayang, dan rasa hormat.

  • Apabila kalian berdua dihadang masalah, janganlah engkau tunjukkan padanya bahwa ini adalah akhir dari segalanya, ingatlah sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

  • Jangan engkau tinggalkan rumahmu sekalipun enkau tertimpa masalah, karena hal ini hanya akan memperkeruh suasana.

  • Bersikaplah lemah dan lembut terhadap suamimu, karena kelembutan ini akan melingkupi seisi rumahmu.

  • Tinggalkanlah cemburu buta, karena ia adalah pintu menuju perceraian.

  • Janganlah engkau menghakimi gerak-gerik suamimu, jangan juga engkau hujani ia dengan perintah-perintah, sehingga hanya mempengaruhi dan memperkeruh keadaan yang pada akhirnya menyerang dan menghancurkan rumah.

  • Janganlah engkau menjadi wanita yang selalu mengungkit-ungkit apa yang telah engkau serahkan dan berikan kepada suamimu.

  • Kadang ada kenikmatan yang didapat oleh wanita ketika ia mampu menguasai suami, mengatur gerak-gerik dan tingkah lakunya. Dan kadang seorang laki-laki menampakkan ketundukan terhadap istrinya, hingga istri menyangka bahwa suami patuh kepadanya. Padahal ia membencinya dengan kebencian yang dalam. Dan mungkin juga permasalahan ini membuat suami hidup dengan istri hanya dengan jasadnya saja, adapun pikiran, khayalan, indera dan perasaannya lari bersama wanita lain.

Betapa Banyak Bencana Membawa Manfaat

Kehidupan telah mengajariku untuk menerima segala keadaannya dengan penuh ridho dan pasrah. Dan aku melihat keridhoan itu meringankan beban dan menguraikan segala kesedihanku.

Muhammad Ghozali mengatakan: “ Islam itu berusaha untuk mengubah kesabaran menjadi keridhoan, pada tempat-tempat yang memang dibenarkan untuk itu. Dan jiwa itu tidak akan pernah sempurna merasakan dinginnya keridhoan dengan mengeluarkan atau memasukan urusan yang kasar. Tidaklah mungkin, karena suatu urusan membutuhkan kelembutan jiwa dan uluran perasaan. Jika hal ini tidak terpenuhi maka tidak ada harganya Engkau mengatakan saya ridho akan tetapi dadamu merasakan kesempitan dan jiwamu membencinya. Padahal pertama kali yang dituntut oleh Islam darimu adalah engkau memperhatikan perasaanmu terhadap apa yang menimpamu. Siapa yang tahu betapa banyak musibah membawa manfaat yang menyehatkan badan, dan siap pula yang tahu dibalik kesengsaraan ada karunia?. Mungkin juga kepayahan -kepayahan yang engkau maksud merupakan pintu menuju kebaikan yang tersembunyi. Dan apabila kita berbuat dengan sebaik-baik dalam penderitaan itu, maka kita bebas menyusup ke dalamnya menuju masa depan yang lebih baik. Allah Ta’ala telah berfirman:
[ و عسى أن تكرهوا شيئا و هو خير لكم و عسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم و الله يعلم و أنتم لا تعلمون ] البقرة : 216
Artinya:
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui (QS Al-Baqoroh : 216)

Dan berapa banyak wanita telah menciptakan kehidupan yang baru bersama madunya. Tumbuh erat hubungan antar mereka bertiga, setelah sebelumnya gersang dan kosong. Dan di sana ada wanita yang mengaduh karena suaminya berbuat aniaya dan tidak ada perhatian kepadanya. Sampai akhirnya sang suami menikah lagi dengan wanita lain agar ia mampu berbuat adil kepada ke 2 istrinya. Maka sang istri pertama pun dapat mengambil sepotong penghormatan dan nafkah dari suaminya yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan.

Dan di sana ada wanita yang beruban rambutnya dengan banyaknya rayuan dari suaminya untuk menikah lagi dengan yang lain. Sang istri mengatakan: “ apakah engkau menginginkan yang baru itu makan dan minum bersamaku? Sampai-sampai ia menjumpaiku dalam mimpi, apakah engkau tidak merasa cukup?. Tapi keluhan tidak diperhatikan, bahkan sang suami sampai merasa letih dan menarik nafas panjang setiap kali melihat wanita lain, baik di televisi maupun di jalan, dan jiwanya tidak tenang sebelum mencoba menikah ke-dua kali. Maka tenanglah jiwanya, menengok ke pekerjaannya dan kembalilah kehidupan kita seperti biasanya.

Adapun Ibu Sulton mengatakan: Setelah penikahanku berlalu selama satu tahun, saya mendapati diriku tercampakkan di depan keluarga suamiku. Penyebab itu semua adalah karena aku bukan kerabat mereka. Mereka mempunyai kebiasaan menikahkan laki-laki mereka dengan anak-anak perempuan dari kerabat mereka sendiri. Dan inilah yang menjadi titik kelemahanku, di mana hal ini tidak sanggup aku hadapi. Perkataan mereka tentang diriku ibarat sebuah tikaman belati bagiku , dan tidak seorangpun yang mampu menahannya, hingga akhirnya suamiku menikahi anak pamannya. Aku merasa kehidupanku sudah berakhir. Dan sesuatu yang mampu membuatku sabar telah hilang dariku.

Pada malam pernikahan suamiku dengan anak pamannya, aku mencoba untuk menekan perasaanku. Aku membantu melepaskan baju suamiku, memberinya wewangian. Akan tetapi aku mengetahui bahwa wanita itu tidaklah mempunyai masalah dengan diriku. Suatu kebetulan kamar pengantin suamiku berhadapan pintu dengan kamarku, ini karena kami tinggal satu rumah milik mertuaku. Di pagi hari malam pernikahannya, aku mendengar ketukan di pintu kamarku. Ternyata dia adalah suamiku, ia ingin berbaring di ranjangku dengan alasan tidak mampu berpisah dariku. Namun aku menyangka pada awalnya ia hanya berbasa-basi untuk sekedar meringankan kepedihanku. Tapi ternyata hal ini menjadi kebiasaannya. Ia selalu meletakkan sepatunya di depan kamar pengantinya, agar keluarganya menyangka ia tidur bersama istri barunya. Dan selanjutnya ia datang untuk tidur bersamaku. Kejadian ini berlangsung sampai 3 bulan, hingga tiba-tiba datang keluarga pamannya untuk menuntut perceraian. Pada akhirnya kerabat suamiku merasa yakin bahwa tidak ada satu kekuatan yang mampu memisahkan kami. Mereka pun menghormatiku, menghargai apa yang aku lakukan demi kebahagiaan anak mereka, yang tidak lain adalah suamiku.

Seandainya setiap wanita meninggalkan rumah dan menuntut cerai ketika suaminya menikah lagi, mungkin ini lebih baik bagi wanita ini. Ia masih seperti anak gadis di usianya. Ia hanya menikah selama satu tahun saja, dan belum ada hubungan anak yang mengikatnya. Akan tetapi luapan cinta kepada suaminya tak mampu dibendung hanya dengan berbuat seperti itu. 

Anak-Anak Kita dalam Bencana

Apa yang akan kita katakan kepada wanita yang menuangkan penderitaanya ke dalam hati anaknya sejak pertama kali pertengkaran antara dia dan suaminya. Dan tidak memperdulikan perpecahan dan pertengkaran dengan ayahnya terjadi di hadapan mereka, tidak memperdulikan perasaan mereka. Hingga musnahlah segala keindahan yang selalu dijaga oleh anak tentang ayahnya. Goyanglah potret di hadapannya, hingga tidak kembali kegembiraan dengan kepulangan ayahnya ke rumah. Karena keberadaanya hanya akan membawa awan mendung bagi mereka, yang akan bergemuruh, menyambar, menyakiti dan melumatkannya.

Ini seorang gadis berumur 10 tahun yang telah dibuat letih oleh kesedihan atas meninggalnya sang ayah. Ia telah memilih sudut rumah sebagai tempat ratapannya, untuk melepaskan kenangan dalam waktu yang panjang. Menyendiri dari keluarganya, meninggalkan bangku sekolah, melepaskan tangisnya. Seandainya engkau mengetahui hai ! wanita yang memilih jalan perceraian dari suami dan menyakitinya, bahwa tangisan ini bukan sekedar tangisan perpisahan dengan ayahnya, akan tetapi tangisan ini merupakan penyesalan, mengapa membenci ayahnya di hari-hari hidupnya. Inilah kisah yang diceritakannya dengan jujur kepada kita:

Sahabatku telah menghadapi berbagai kepayahan, ia melihat ibunya menuntut perceraian dari ayahnya yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya. Dan tidak henti-hentinya ibunya mengharapkan perceraian itu terjadi, hingga ayahnya menyambut permintaan ibunya dan akan menyelesaikannya dengan mudah. Kehidupannya pun berbalik, berganti dengan kehidupan yang paling buruk yang pernah dia alami hingga ia tumbuh besar. Sebelumnya ia tinggal bersama ibunya dalam kegelisahan sampai ia pun membenci ayahnya dengan kebencian yang dalam dan mengharapkan kematianya. Dan tidak berlangsung lama datang kepada mereka berdua kabar kematian ayahnya. Maka seketika itu ia mengetahui arti dari keberadaan seorang ayah dalam hidupnya. Bagaimana mungkin saya membencinya sedang ia adalah bagian dariku. Semua kegalauan ini berkumpul menjadi satu dalam hatinya, hingga sampai keadaannya seperti sekarang.

Syaikh Holid ibn Ali Syayi’ telah memberi komentar seputar masalah ini, beliau berkata: Kita telah sepakat bahwa mencela dalam perceraian tidak dibolehkan kapan saja dan di mana saja.Hal ini hanya akan mengundang kebencian yang silih berganti, tipu daya, jerat dan kekalutan antara suami istri. Dengan demikian kita mengetahui bahwa anak yang tumbuh dalam kondisi yang tidak sehat seperti itu, akan berpengaruh terhadap kejiwaan dan perilakunya di masa mendatang.

Pengaruh ini akan menimpa mereka ketika perpisahan antara suami istri terjadi. Perceraian merupakan satu bencana besar bagi keluarga yang mempunyai andil besar terhadap kecenderungan anak untuk berbuat kriminal. Seorang istri harus mengetahui bahwa kebersamaan sang suami dalam pendidikan anak merupakan jaminan utama bagi kesehatan jiwa anak. Pendidikan ayah menjadikan mereka dalam kebahagiaan yang dalam. Karena keberadaan seorang ayah di tengah-tengah anaknya memberikan kehangatan belas kasih dan sayang, ini apabila kita mengharapkan pendidikan yang seimbang bagi anak-anak kita.

Demi Engkau Putriku

Ini adalah lembar terakhir yang dengannya aku menyeru engkau. Aku bawa ke hadiranmu, agar engkau menyerahkannya kepada putrimu. Ini adalah surat dari ayahnya yang telah menulis lembaran surat berikut ini:

“ Hai putri kecilku! Sepertinya aku melihat di kedua bola matamu yang jernih, dan kedua juluran tanganmu yang membentang, menyambut setiap aku kembali dari kesibukanku, engkau cium kedua pipiku disertai dekapan. Apakah engkau tahu?.....bagaimana engkau membuatku tidak kuasa untuk berpisah denganmu....Akan tetapi keadaanlah yang memaksaku untuk menjauh darimu, setelah kenangan terukir antara aku dan ibumu yang aku tak mampu untuk membawanya. Aku menyendiri di kesunyian hari yang kosong untuk melepaskan dan lari dari kalian. Akan tetapi semua itu sia-sia. Jiwaku menolak untuk menerima kenyataan yang ada. Aku tak menginginkan engkau masuk dalam lorong sempit kehidupan kami. Akan tetapi ....Hai! putri kecilku ...aku ingin engkau mengusap air matamu...yang memancar dalam diriku keperihan, saat diriku gontai menahan sedih di akhir kunjunganku padamu. Dan aku mencari secercah kebahagiaan yang dulu ada di matamu, siapa yang telah membuatmu menangis hai kekasih kecilku? Siapa yang telah menyalakan kebencian terhadap orang yang paling engkau cintai di dalam hati mungilmu? Aku mengakui panasnya perpisahan denganmu tak mampu di padamkan gerimis beberapa hari. Dan aku mengakui engkau tidak akan rela terhadapku sekalipun aku ganti dengan hadiah. Aku mengetahui pula kata penyesalan tak cukup.....tak cukup... sekalipun aku menelan bara di depanmu.

Jangan engkau tanya aku bagaimana hari-hari berlalu sedang aku jauh darimu. Dan pondok itu hai manisku! Belum datang kebahagiaan setelahmu, bagaimana? padahal telah lenyap kata “ayah....ayah..!” dari gigi susumu. Setiap malam kerinduanku padamu membawaku untuk menemanimu bertamasya di hatiku yang menjadi tempat singgahmu selagi engkau matahari dan bumiku. Buah hatiku bagaimana mungkin perrpisahan denganmu membuatku merasa lega. Jadilah engkau penyambung antara aku dan ibumu, agar kita memetik bersama-sama pelukan harapan.

Kami Menginginkan Engkau Ibu

Pada kesempatan ini Syaikh Kholid ibn Ali Syayi’menunjukkan bahwa, hilang atau sedikitnya kasih sayang dan kecintaan ibu kadang kala menuntun anak pada posisi di mana ia mengalami gangguan emosi-emosi yang negatif, dan kadang-kadang akan mengakibatkan gangguan jiwa, yang dimulai dengan perasaan lemah dan tidak berdaya dan berakhir dengan perasan dengki dan kebencian yang ditujukan kepada orang lain, juga munculnya penderitaan badan yang terus-menerus yang kadang-kadang pada kondisi tertentu menyebabkan kematian pada anak.

Dan ibu adalah makhluk paling terhormat dan paling utama dalam anggota masyarakat. Barang siapa yang membutakan hatinya tersumbatlah mata air kasih sayang, dan dalam asuhannya berkembanglah keutamaan-keutamaan. Ibu adalah lambang kasih-sayang dan contoh terang yang mencurahkan dirinya di jalan keluarga, suami dan anak-anaknya. Yang melarutkan jalinan kasih sayang seperti mencairnya lilin. Tidak mengaduh dan jenuh pada penderitaan dan kesulitan. Karena “penyangga” yang tersembunyi meneguhkannya, menguatkan kesungguhannya, memberinya kehidupan. Dan perjalanan ibu tidaklah tertulis kecuali dengan tinta dari campuran air mata dan darah. Sesungguhnya fitrah ibu telah dipersenjatai perlengkapan yang memungkinkannya untuk tegar di depan serbuan masa.

Diterjemahkan dari Majalah Dwi Mingguan berbahasa arab Al-Da’wah, edisi 1863 –3 Sya’ban 1423 H/10

2 komentar:

  1. masyaAlloh pembahasan yang sangat menarik

    BalasHapus
  2. Asslmkm…wrwb

    Boleh beda pendapat??

    Gak Salaahh??

    Dan……

    Berdasarkan sensus penduduk 2000 dan 2010 ternyata justru JUMLAH PRIA DI INDONESIA LEBIH BANYAK DARI WANITANYA.

    “laki2 jaman sekarang biasanya mati2an menentang atau berusaha menutup2i fakta ini dengan berbagai alasan dan dalih”

    Begitu juga dengan data negara2 di dunia (CIA, Bank Dunia, PBB, dll) ternyata jumlah pria juga lebih banyak dari wanitanya (terutama untuk China, India, dan negara-negara Arab)

    Yup jumlah wanita memang sangat melimpah tapi di usia di atas 65 tahun, mauu?? hehe….kalo ngebet, silakan poligami dengan golongan wanita usia ini.

    Cek di data resmi BPS dan masing2 pemda atau coba klik di:
    http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/11/poligami-meningkat-bujang-lapuk-menggugat--567796.html
    http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=263&wid=0
    http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12&notab=4
    http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=penduduk_ratio&info1=4
    http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=321
    http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=211&Itemid=211&limit=1&limitstart=2
    Kira2 apa ya solusi dari kelebihan pria ini?
    masih tetap POLIGAMI? Hanya akan semakin “merampas” kesempatan bujangan pria lain untuk dapat menikah
    perkiraan dan kepercayaan selama ini “turun temurun” yang selalu jadi senjata bagi pria yang ngebet ingin berpoligami bahwa jumlah wanita jauh berlipat lipat di atas pria ternyata SALAH BESAR

    Hasil Sensus Penduduk 2010 berdasar jenis kelamin perpropinsi
    Kode, Provinsi, Laki-laki, Perempuan, Total Penduduk
    1 Aceh, 2 248 952, 2 245 458, 4 494 410
    2 Sumatera Utara, 6 483 354, 6 498 850, 12 982 204
    3 Sumatera Barat, 2 404 377, 2 442 532, 4 846 909
    4 Riau, 2 853 168, 2 685 199, 5 538 367
    5 Jambi, 1 581 110, 1 511 155, 3 092 265
    6 Sumatera Selatan, 3 792 647, 3 657 747, 7 450 394
    7 Bengkulu, 877 159, 838 359, 1 715 518
    8 Lampung, 3 916 622, 3 691 783, 7 608 405
    9 Bangka Belitung , 635 094, 588 202, 1 223 296
    10 Kepulauan Riau, 862 144, 817 019, 1 679 163
    11 DKI Jakarta, 4 870 938, 4 736 849, 9 607 787
    12 Jawa Barat, 21 907 040, 21 146 692, 43 053 732
    13 Jawa Tengah, 16 091 112, 16 291 545, 32 382 657
    14 DI Yogyakarta, 1 708 910, 1 748 581, 3 457 491
    15 Jawa Timur, 18 503 516, 18 973 241, 37 476 757
    16 Banten, 5 439 148, 5 193 018, 10 632 166
    17 Bali, 1 961 348, 1 929 409, 3 890 757
    18 Nusa Tenggara Barat, 2 183 646, 2 316 566, 4 500 212
    19 Nusa Tenggara Timur, 2 326 487, 2 357 340, 4 683 827
    20 Kalimantan Barat, 2 246 903, 2 149 080, 4 395 983
    21 Kalimantan Tengah, 1 153 743, 1 058 346, 2 212 089
    22 Kalimantan Selatan, 1 836 210, 1 790 406, 3 626 616
    23 Kalimantan Timur, 1 871 690, 1 681 453, 3 553 143
    24 Sulawesi Utara, 1 159 903, 1 110 693, 2 270 596
    25 Sulawesi Tengah, 1 350 844, 1 284 165, 2 635 009
    26 Sulawesi Selatan, 3 924 431, 4 110 345, 8 034 776
    27 Sulawesi Tenggara, 1 121 826, 1 110 760, 2 232 586
    28 Gorontalo, 521 914, 518 250, 1 040 164
    29 Sulawesi Barat, 581 526, 577 125, 1 158 651
    30 Maluku, 775 477, 758 029, 1 533 506
    31 Maluku Utara, 531 393, 506 694, 1 038 087
    32 Papua Barat, 402 398, 358 024, 760 422
    33 Papua, 1 505 883, 1 327 498, 2 833 381
    TOTAL, 119 630 913, 118 010 413, 237 641 326
    Sex Ratio Indonesia (menurut BPS) beginilah data yang saya dapat:
    - Tahun 1971 = 97.18 pria : 100 wanita
    - Tahun 1980 = 99.82 pria : 100 wanita
    - Tahun 1990 = 99.45 pria : 100 wanita
    - Tahun 1995 = 99.09 pria : 100 wanita
    - Tahun 2000 = 100.6 pria : 100 wanita
    - Tahun 2010 = 101,01 pria : 100 wanita
    Bisa dilihat, ternyata tren sex ratio semakin meningkat, dalam arti dari tahun ke tahun jumlah pria semakin melebihi wanita

    Poligami????? Anehh…

    BalasHapus