Kamis, 13 Oktober 2011

Bab Haidh & Nifas


1. Pembagian Darah Wanita adalah :
1.1 Darah Haidh : adalah darah yang memiliki ciri-ciri khusus dan keluar dari seorang wanita dari tempat khusus pada waktu yang diketahui. Tidak ada batasan waktu minimal dan maksimalnya dalam syari’at, tetapi biasanya selama 6(enam) atau 7(tujuh) hari dalam sebulan
Ciri-ciri darah haidh :
 Berwarna hitam
 Kental
 Berbau tidak sedap
 Tidak membeku setelah keluar
Mengenali darah haidh :
Datangnya darah Haidh bisa diketahui dengan keluarnya darah pada waktu yang memungkinkan terjadi haidh & darah tersebut memiliki ciri-ciri darah haidh.
Berhentinya darah Haidh dapat diketahui dengan berhentinya darah dan cairan berwarwa kuning dan berwarna keruh (kotor kehitam-hitaman). Ini bisa diteliti dengan salah satu dari dua hal berikut:
a. Kering, yaitu wanita meletakkan kain (pembalut) di kemaluannya,lalu ketika ia membukanya ternyata kain itu kering.
b. Cairan Putih, yaitu air berwarna putih yang keluar dari rahim saat darah haidh berhenti.
Aisyah ummul mukminin pernah mengatakan,
“Janganlah kalian terburu-buru (untuk shalat) hingga kalian melihat cairan putih,’ maksudnya adalah suci dari haidh (karena cairan itu pertanda suci).” (HR. Malik)
Adapun cairan berwarna kuning dan agak keruh (bagaikan nanah dan tampak kuning), maka cairan itu tidak dinamakan haidh, artinya ia dalam keadaan suci sehingga saat itu ia wajib melakukan shalat, puasa, dan boleh digauli oleh suaminya.
Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah, ia berkata;
“Kami tidak memperhitungkan sama sekali cairan yang berwarna kuning atau keruh (setelah suci).” (HR. Abu Dawud : 307)
1.2. Darah Nifas
Nifas adalah darah yang keluar karena melahirkan, baik itu yang terjadi sebelum, pada saat, atau, setelah melahirkan. Tidak ada batas minimal, sedangkan batasan maksimalnya adalah 40 hari setelah itu wajib mandi dan shalat. Sebagaimana hadits Ummu Salamah, ia berkata;
“Wanita-wanita yang sedang nifas pada zaman Nabi duduk (menunggu) setelah kelahirannya selama 40 hari atau 40 malam.” (HR. Abu Dawud)
Hukumnya :
• Jika ada darah yang keluar sebelum melahirkan, dan keluarnya disertai rasa sakit maka itu darah nifas, jika keluarnya tidak disertai rasa sakit maka itu adalah darah penyakit.
• Wanita yang sedang nifas hukumnya sama dengan wanita haidh, perbedaannya nifas dengan haidh bahwa ‘iddah tidak mengganggap (memperhitungkan) adanya nifas, karena masa ‘iddah orang yang hamil hanya dengan melahirkan.
1.3. Darah Istihadhah
Istihadhah adalah keluarnya darah bukan pada waktu sedang haidh atau nifas, atau bersambung dengan keduanya (tetapi bukan termasuk keduanya). Ia hanyalah penyakit karena terputusnya pembuluh darah. Darah itu tidak akan berhenti kecuali jika sembuh.
Ciri-ciri darah Istihadhah :
 Berwarna merah
 Encer
 Tidak berbau busuk
 Membeku setelah keluar
Hukumnya :
Wanita yang istihadhah dianggap dalam keadaan suci, ia tidak dilarang melakukan shalat, puasa, thawaf, dll. Berdasarkan kesepakatan para ulama’.
Catatan :
• Seorang yang istihadhah harus membasuh kemaluannya dengan air jika akan shalat dan memakai pembalut. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah kepada Fathimah binti Abu Hubaisy,
“Cucilah darah yang ada padamu dan shalatlah.” (HR. Bukhari : 306)
• Seorang yang istihadhah harus berwudhu setiap kali shalat. Berdasarkan sabda Nabi kepada Fathimah binti Abi Hubaisy;
“Kemudian berwudhulah pada setiap akan shalat.” (HR. Ibnu Majah : 507)
• Seorang yang istihadhah boleh digauli oleh suaminya, walaupun darahnya mengalir, selama tidak dalam masa haidh, dan inilah pendapat mayoritas ulama’
• Wanita yang istihadhah boleh i’tikaf di dalam masjid. Sebagaimana hadits dari ‘Aisyah, beliau berkata;
“Salah seorang dari isteri Rasulullah (yang mengalami istihadhah) pernah beri’tikaf bersama beliau, kamudian ia melihat darah dan cairan kekuning-kuningan sedangkan dibawahnya ada sebuah bejana dan tengah melakukan shalat.” (HR.Bukhari : 310)
2. Hal yang Diharamkan Bagi wanita yang Haidh & Nifas adalah :
2.1 Shalat
Diriwayatkan dari Abu Sa’id, beliau berkata, Nabi bersabda;
“Bukankan jika ia sedang haidh ia tidak melakukan shalat dan puasa? Maka itulah kekurangan agamanya” (HR. Bukhari : 1951, Muslim : 80)
Catatan:
Jika seorang wanita haidh sebelum Ashar –misalnya- sedangkan ia belum melakukan shalat dhuhur, jika ia suci maka ia harus mengqadha’ shalat yang tidak ia lakukan sebelum datang haidh (yaitu Shalat Dhuhur). Hal ini berdasarkan firman Allah;
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang yang beriman” (QS. An-Nisa : 103)
Ini Adalah pendapat yang lebih hati-hati. Allahu A’lam.
2.2. Puasa
Aisyah berkata;
“Kami pun mengalami (maksudnya adalah haidh), lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” (HR. Muslim : 265)
Catatan:
Diriwayatkan dari Ibnu Juraij, beliau berkata kapada ‘Atha’, “Seorang wanita haidh pada waktu pagi kemudian suci pada pertengahan siangnya, apakah ia harus berpuasa?” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi ia harus mengqadha’nya.” (HR. Abdurrazzaq dalam mushannaf : 1292, dengan sanad yang shahih)
2.3. Jima’
Firman Allah;
“Oleh Sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh.” (QS. Al-Baqarah : 222)
Nabi bersabda,
“Lakukan apa saja kecuali nikah (jima’)” (HR. Muslim : 302)
Catatan:
Seorang yang menggauli isterinya ketika haidh, maka harus membayar kaffarat kepada fakir miskin, satu dinar jika dia melakukannya pada permulaan keluarnya darah, setengah dinar jika dia melakukannya pada akhir keluarnya darah. Kafarah tersebut dikenakan bagi suami dan isteri. 1(satu) dinar sama dengan 4,25 gr emas.
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas, dari Nabi tentang seorang yang menyetubuhi isterinya yang sedang haidh. Beliau bersabda;
“Dia wajib beredekah sebanyak satu dinar atau setengah dinar.” (HR. Ibnu Majah : 523)
Juga berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas secara mauquf;
“Jika dia melakukannya pada permulaan keluarnya darah, maka dia harus bersedekah satu dinar. Dan jika pada akhir keluarnya, maka setengah dinar.” (HR. Abu Dawud : 238)
2.4. Thawaf
Berdasarkan hadits ‘Aisyah bahwa ketika beliau haidh pada saat melaksanakan haji, beliau berkata kapada ‘Aisyah;
“Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh thawaf hingga engkau suci.” (HR. Bukhari : 1650)
3. Beberapa hal yang dibolehkan oleh wanita haidh adalah :
3.1. Dzikir kepada Allah & membaca Al-Qur’an
Hadits Ummu ‘Athiyyah, ia berkata;
“Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya, hingga kami mengeluarkan para gadis pingitan dan wanita-wanita yang sedang haidh, mereka semua di belakang manusia, bertakbir dengan takbir mereka, berdo’a dengan do’a mereka, mereka mengharapkan keberkahan dan kesucian hari itu.” (HR. Bukhari : 971)
3.2. Bersujud ketika mendengar ayat sajdah
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari No. 4862;
“Bahwa Nabi membaca surat An-Najm, lalu beliau sujud didalamnya, demikian pula seluruh kaum muslimin, orang-orang musyrik, jin, dan semua manusia sujud bersamanya.” (HR. Bukhari)
3.3. Seorang suami membaca al-Qur’an sedangkan ia tengah berada di pangkuan isteri yang sedang haidh
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah;
“Nabi membaca al-Qur’an, sedangkan kepala beliau berada di pangkuanku dan aku sedang haidh.” (HR. Bukhari : 7549)
3.4. Menyaksikan shalat dua hari raya
Nabi bersabda;
“Hendaklah para gadis, para gadis yang dipingit juga wanita yang sedang haidh keluar dan menyaksikan kebaikan (khutbhah ‘Ied) dan do’a kaum muslimin. Hendaklah para wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat.” (HR. Bukhari : 324)
3.5. Masuk ke dalam masjid bila ada kebutuhan
Sebagaimana seorang wanita berkulit hitam yang menginap di dalam masjid dan Nabi tidak memerintahkan untuk menjauhi masjid ketika haidh.
3.6. Suami makan dan minum bersama isteri yang sedang haidh
Diriwayatkan dari ‘Aisyah ia berkata;
“Aku pernah minum air ketika aku sedang haidh, kemudian aku memberikan (gelas) kepada Nabi, beliau meletakkan mulutnya pada (bekas) tempat mulutku, dan aku menggigit daging dari tulang sedangkan aku tengah haidh, kemudian aku memberikannya kepada Nabi, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat (bekas) mulutnya.” (HR.Muslim : 300)
3.7. Wanita yang sedang haidh melayani suaminya
Diriwayatkan dari ‘Aisyah, beliau berkata;
“Aku menyisir rambut Rasulullah dan ketika itu aku sedang haidh.” (HR. Bukhari : 295)
3.8. Tidur bersama suami dalam satu selimut
Diriwayatkan dari Ummu Salamah;
“Ketika aku bersama Nabi tidur di dalam sebuah selimut tebal tiba-tiba aku haidh, lalu aku keluar dengan perlahan, kemudian aku mengambil pakaian biasa aku pakai ketika haidh. Selanjutnya beliau berkata, ‘Apakah engkau sedang haidh?’ Aku menjawab, ‘Ya,’ kemudian beliau memanggilku dan aku pun tidur bersamanya di dalam selimut yang tebal.” (HR. Bukhari : 298)
4. Permasalahan & Jawaban
Pertanyaan :
Bagaimana dengan wanita yang mengalami haidh diluar kebiasaannya –baik itu waktunya lebih panjang, lebih pendek, lebih awal, atau wanita hamil yang mengalami haidh-?
Jawab :
Untuk menyelasaikan permasalahan diatas dengan 4(empat) tingkatan berikut :
1. Melihat kebiasaan haidh. Apabila keluarnya darah haidh itu bertepatan dengan waktu yang biasa terjadi haidh pada dirinya, maka ia dihukumi sebagai seorang yang sedang haidh, dan berlakulah hukum haidh baginya.
Jika waktunya tidak bertepatan dengan waktu yang biasa terjadi haidh pada dirinya dan darah yang keluar tidak seperti ciri-ciri darah haidh, maka darah tersebut dianggap darah istihadhah.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Sesungguhnya Ummu Habibah bertanya kepada Rasulullah tentang darah, lalu ‘Aisyah berkata, “Aku melihat bejananya penuh dengan darah, lalu Rasulullah berkata;
“Tunggulah selama masa haidhmu, kemudian mandi dan lakukanlah shalat.” (HR. Muslim)
2. Membedakan darah haidh. Apabila keluarnya darah haidh itu tidak bertepatan dengan waktu yang biasa terjadi haidh pada dirinya sedangkan wanita tersebut bisa membedakan darah haidhnya dengan darah yang selainnya, maka hendaknya ia perhatikan darah yang keluar tersebut. Kalau memiliki kesamaan dengan darah haidh, maka ia dihukumi sebagai seorang yang sedang haidh, dan berlakulah hukum haidh baginya.
Jika tidak memiliki kesamaan dengan darah haidh, maka darah tersebut dianggap darah istihadhah.
3. Melihat kebiasaan haidh kerabat wanitanya. Bagi wanita yang tidak bisa membedakan darah haidhnya dengan darah yang selainnya, dan waktu haidhnya tidak teratur, lupa kebiasaan haidhnya atau belum pernah haidh. Maka ia harus melihat kebiasaan haidh kerabat wanitanya (saudarinya, ibunya, dll.). Biasanya selama 6(enam) atau 7(tujuh) hari dalam sebulan, maka selama masa haidh tersebut ia dihukumi sebagai wanita haidh, sedangkan lebih dari 7(tujuh) hari dianggap darah Istihadhah.
4. Menggenapkan masa haidh. Jika darah itu datang pada waktu kebiasaannya hanya 2(dua) hari –misalnya-, kemudiaan berhenti pada hari ketiga, dan datang lagi pada hari yang keempat, dan demikian seterusnya, maka pendapat yang benar dalam hal ini bahwa terputusnya darah haidh pada hari yang biasa dianggap sebagai masa haidh. Terputusnya darah tidak dinggap suci, dan yang diperhitungkan adalah tanda kesuciaan, yaitu adanya cairan putih yang diketahui oleh kalangan wanita.
Aisyah ummul mukminin pernah mengatakan,
“Janganlah kalian terburu-buru (untuk shalat) hingga kalian melihat cairan putih,’ maksudnya adalah suci dari haidh (karena cairan itu pertanda suci).” (HR. Malik)
Maraji’ :
1. Al-Wajiz Fi fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz, Abdul Azhim bi badawi al-Khalafi.
2. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim.
3. Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
4. Mukhtashar fiqih Islami, Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri

0 komentar:

Poskan Komentar