Kamis, 13 Oktober 2011

Sujud Sahwi & Sujud Tilawah

1. Tatacara Sujud Sahwi
1.1. Dilakukan dengan 2(dua) kali sujud
1.2. Disertai takbir setiap kali kan sujud dan mengangkat kepala
Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah;
“Bahwasanya Rasulullah mengakhiri shalat setelah dua raka’at. Tibi-tiba Dzul Yadain berkata kepada beliau,’Apakah shalat ini diqashar atau engkau lupa wahai Rasulullah? Lalu Rasulullah bertanya, ‘Apakah benar yang dikatakan oleh Dzul Yadain?’ Para sahabat menjawab, ‘Benar.’ Kemudian Rasulullah berdiri dan melakukan dua raka’at yang lainnya. Setelah itu beliau mengucapkan salam, dilanjutkan dengan takbir dan sujud seperti sujud (yang biasa dilakukan) atau lebih lama, lalu beliau mengangkat (kepalanya) dari sujud.” (HR. Bukhari : 1228, Muslim : 573)

2. Hukum Sujud Sahwi
Hukum sujud sahwi wajib. Karena Nabi memerintahkannya. Sebgaimana disebutkan dalam beberapa hadits, dan juga karena beliau senantiasa melakukannya ketika lupa.
3. Sebab-sebab Sujud Sahwi
Sujud sahwi dilakukan dengan tiga sebab :
3.1. Pengurangan
Maksudnya apabila seseorang belum melakukan salah satu dari wajib-wajib shalat (karena lupa).
3.2. Penambahan
Maksudnya bila seseorang menambahkan suatu gerakan dari jenis gerakan shalat karena lupa, atau seseorang belum melakukan salah satu rukun shalat karena lupa (sehingga nantinyan ada penambahan gerakan).
3.3. Keragu-raguan
Maksudnya bila seseorang merasa ragu-ragu tentang jumlah raka’at yang sudah ia laksanakan
4. Letak Sujud Sahwi
4.1. Sebelum salam
• Bila seseorang belum melakukan salah satu dari wajib-wajib shalat (karena lupa) -seperti lupa membaca tasyahhud awal- maka ia tidak wajib membaca tasyahhud. Melainkan wajib melakukan sujud sahwi sebelum salam.
• Bila seseorang merasa ragu-ragu tentang jumlah raka’at yang sudah ia laksanakan, apakah sudah tiga raka’at atau empat raka’at, ia harus mengambil angka yang lebih sedikit dan menyempurnakan shalatnya. Lalu melakukan sujud sahwi sebelum salam.
Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Said Al-Khudri, bahwasannya Nabi bersabda;
”Jika seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, lalu ia tidak tahu berpa (raka’at shalat) yang telah ia kerjakan, tiga atau empat (raka’at), maka hendaklah ia membuang keraguan dan membangun ata apa yang ia yakini, kemudian hendaklah ia sujud dua kali sebelum salam. Jika (ternyata) ia shalat lima raka’at, kedua sujud itu menggenapkan shalatnya, dan jika ia shalat sempurna (emat raka’at), maka kedua sujud itu merupakan kemenangan atas syetan.” (HR. Muslim)
4.2. Sesudah salam
• Bila seseorang menambahkan suatu gerakan dari jenis gerakan shalat karena lupa –seperti berdiri, ruku’, sujud, atau melaksanakan shalat empat raka’at menjadi lima raka’at-, Maka karena penambahan tersebut ia wajib melakukan sujud sahwi sesudah salam, baik teringat sebelum salam maupun sesudah salam.
• Bila seseorang belum melakukan salah satu rukun shalat (karena lupa). Kemudian teringat sebelum ia sampai pada rukun tersebut di raka’at berikutnya, ia wajib kembali melaksanakannya berikut rukun sesudahnya. Bila teringat setelah ia sampai pada rukun itu di raka’at selanjutnya maka ia tidak boleh kembali dan raka’at tersebut dianggap batal. Ia harus melaksanakan rukun yang kurang berikut rukun-rukun sesudahnya saja kemudian sujud sahwi sesudah salam (karena ada penambahan gerakan).
• Bila seseorang merasa ragu-ragu tentang jumlah raka’at yang sudah ia laksanakan, apakah sudah tiga raka’at atau empat raka’at. Namun, dugaannya lebih kuat mengarah kepada salah satu dari dua kemungkinan tersebut, ia harus melaksanakannya dan melakukan sujud sahwi sesudah salam.
Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Mas’ud, bahwasannya Nabi bersabda;
”Jika seorang diantara kalian ragu dalam shalatnya, maka hendaklah ia memilih yang benar (yakin) dengan seksama,lalu ia sempurnakan, kemudian ia salam, lalu sujud dua kali selesai salam.” (HR. Bukahari)
2. Bacaan Sujud Sahwi
Bacaan di dalam sujud sahwi sama seperti dzikir dan doa yang dibaca di dalam sujud shalat lainnya. Diantaranya membaca,
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Wajahku sujud kepada Tuhan Yang menciptakannya, membentuknya, (memperindah bentuknya), membelah pendengaran dan penglihatannya (dengan daya dan kekuatanNya) dan Maha Suci Allah sebagai sebaik-baik pencipta.”
(HR. Muslim : 771, Abu Daud : 760, 1414)
Catatan :
• Bila seseorang meninggalkan salah satu dari rukun-rukun tersebut karena lupa maka ia harus kembali kepadanya dan melaksanakannya dan diteruskan kepada hukum-hukum berikutnya, selagi ia belum sampai pada raka’at kedua. Karena jika terjadi demikian adanya maka raka’at kedua tersebut menjadi ganti dari raka’at yang ia tinggalkan salah satu rukunnya dan raka’at sebelumnya dianggap batal. Seperti orang yang lupa ruku’ kemudian sujud maka dalam hal ini, ia wajib kembali ketika mengingatnya, kecuali apabila ia telah sampai ke tempat ruku’ pada raka’at kedua. Jika demikian adanya maka raka’at kedua menjadi ganti dari raka’at sebelumnya yang ia tinggalkan ruku’nya tersebut dan ia harus melakukan sujud sahwi sesudah salam.
• Bila imam berdiri dari raka’at kedua sementara belum duduk untuk membaca tasyahhud, apabila ia teringat sebelum berdiri tegak, hendaklah ia duduk. Adapun bila sudah berdiri tegak, hendaklah ia tidak duduk. Namun harus melakukan dua kali sujud sahwi sebelum salam.
Sebagaimana diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah, beliau berkata, Rasulullah bersabda;
”Jika salah seorang diantara kalian berdiri dari dua rakaat (tanpa tasyahud awal), dan belum berdiri tegak, maka kembalilah untuk duduk. Dan jika ia telah berdiri dengan tegak, maka janganlah ia kembali untuk duduk (tasyahud), bersujudlh sebanyak dua kali karena lupa.” (HR. Abu Dawud : 1023)
• Jika seseorang berkewajiban melakukan sujud sahwi, sebelum dan sesudah salam, ia cukup melakukannya sebelum salam.
• Sujud sahwi juga disyariatkan dalam shalat sunnah. Karena tidak ada dalil yang membedakan antara shalat fardhu dengan shalat sunnah dalam masalah ini.
• Jika seseorang lupa ketika dibelakang imam, maka imamnya yang menanggung kesalahan yang ia lakukan, dan tidak diwajibkan ia melakukan sujud sahwi selama masih bermakmum dibelakang imam. Sebab tidak diragukan bahwa dahulu para sahabat pernah lupa ketika shalat, tetapi kenyataannya tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa mereka melakukan sujud sahwi setelah Nabi mengucapkan salam.
• Seorang makmum harus mengikuti imamnya dalam hal sujud sahwi, termasuk makmum masbuq yang mengikuti imam yang harus melakukan sujud sahwi sesudah salam, jika makmum itu menjumpai lupanya imamnya. Dan ia harus melakukan sujud sahwi sesudah salam, jika terlupanya imam termasuk kategori sujud sahwi setelah salam. Namun bila lupanya imam itu terjadi sebelum makmum masuk bersamanya maka makmum tidak harus melakukan sujud sahwi.
• Jika seseorang salam dengan meninggalkan kekurangan, seperti orang yang shalat tiga raka’at pada shalat empat raka’at, lalu ia salam, kemudian ia diingatkan akan hal itu, ia harus berdiri tanpa membaca takbiratul ihram. Kemudian ia melaksanakan raka’at yang keempat, membaca tasyahhud dan salam, kemudian melakukan sujud sahwi setelah salam.
3. Tata Cara Sujud Tilawah
3.1. Dilakukan dengan 1(satu) kali sujud
3.2. Disertai takbir setiap kali kan sujud dan mengangkat kepala
4. Hukum Sujud Tilawah
Hukum sujud tilawah tidaklah wajib, namun ia adalah keutamaan (sunnah).
Ibnu Hazm berkata dalam Al-Muhalla,
”Sujud ini (tilawah) tidaklah wajib, namun ia adalah keutamaan (sunnah). Sujud ini dilakukan saat shalat wajib dan sunnah. Juga pada selain shalat di setiap waktu, ketika matahari terbit, tenggelam, maupun saat pertenghan. Baik menghadap ke kiblat maupun tidak. Baik dalam keadaan suci maupun tidak.”
Zaid bin Tsabit pernah membacanya (ayat sajdah) di hadapan Nabi, tetapi beliau tidak sujud (HR. Bukhari : 1073, Muslim : 577) untuk menunjukkan kebolehnnya. Sebagaimana disebutkan Al-Hafizh dalam Fathul Bari (II/555), Ibnu Hazm berkata (V/111),
”Sujud ini boleh dilakukan tanpa bersuci dan tanpa menghadap kiblat, karena ia bukanlah shalat.”
Seorang yang berhadats, haid dan nifas pun boleh melakukan sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat sajdah.
5. Bacaan di dalam Sujud Tilawah
Bacaan di dalam sujud tilawah sama dengan bacaan di dalam sujud.
Maraji’ :
1. Al-Wajiz Fi fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz, Abdul Azhim bi badawi al-Khalafi.
2. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim.
3. Mukhtashar fiqih Islami, Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
4. Tuhfatul Ikhwan bi Ajwbatin Muhammatin Tatallaqu bi Arkanil Islam, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

0 komentar:

Poskan Komentar